Materi kuliah pertemuan II


Materi kuliah pertemuan II

Potret Remaja di Masa Rasulullah
Menjadi pengikut dan penggerak dakwah islam:
·         Ali bin Abi Thalib (8 th)
·         Zubair bin Al-Awwam (8 th)
·         Thalhah bin Ubaidillah (11 th)
·         Arqam bin Abi Al-Arqam (12 th)
·         Abdullah bin Masud (14 th)
·         Said bin Abi Waqash (17 th)

Lalu, bagaimana potret remaja saat ini?
Potret remaja masa kini dapat digambarkan sebagai berikut?
1.      Tawuran hampir terjadi setiap hari
2.      Minat yang tinggi di kalangan generasi muda terhadap kehidupan non-science seperti asyik mencari kekuatan ghaib, belajar ilmu sihir/hitam, mencari jawaban dari jawaban paranormal, percaya dengan ramalan bintang, atau pergi ke tempat-tempat angker menyelami black magic dan menyelami mistik.
3.      Budaya barat yang berbentuk sensate cultur yaitu budaya yang bertalian yang betalian dengan hedonistic dengan orientasi gaya hidup hura-hura, gaya hidup konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah yang lepas dari kendali aturan agama  dengan tampilan generasi yang pemissive (serba bebas) dan anarkir (penuh kekerasan/brutal).
4.      Meningkatnya bunuh diri di kalangan anak-anak/remaja karena tak mamapu menahan tekanan hidup.
Anak-anak yang tidak mampu sekolah ini muncul di jalanan menjadi pengemis, pengamen meupun pedagang asongan. Bahkan tidak hanya itu, banyak dari mereka menjadi pelaku tindak kriminal, mencopet, etrlibat narkoba, mabuk-mabukan, pembunuhan dan perbuatan asusila lainnya. Mereka melakukan itu dengan dalih kebutuhan ekonomi yang terasa semakin meningkat tajam.


KENAPA BISA TERJADI?
APA AKAR MASALAHNYA?
APA SOLUSINYA?

Bagaimana sebenarnya kondisi umat? Sakit
Apa penyebabnya? MENINGGALKAN AGAMA alias SEKULER
Apa obatnya? KEMBALI PADA AGAMA
Siapa dokternya? UMAT YANG SEHAT, TAHU, SADAR, DAN MAU
Dimana rumah sakitnya? DIMANA SAJA DI BUMI ALLAH
Kondisi pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari bagan di bawah ini!


KONDISI PENDIDIKAN INDONESIA KINI





Karakteristik masyarakat madani
(visi indonesia 2020), yaitu masyarakat yang tertulis di bawah ini:
1.      Religius
2.      Demkrasi
3.      Kepastian hukum
4.      Egalitarian
5.      Penghargaan terhadap human dignity
6.      Kemajuan budaya dan bangsa dalam satu kesatuan




Materi I
Pengertian Ilmu sosial dan Ilmu Budaya
Sumber dari semua ilmu pengetahuan adalah filsafat (philosophia). Dari filsafat lahir tiga cabang ilmu pengetahuan:
Ø  Natural science (ilmu-ilmu alam meliputi: fisika, kimia, biologo, dll)
Ø  Social science (ilmu-ilmu sosial meliputi: sejarah, politik, ekonomi, dll)
Ø  Humanities (ilmu-ilmu budaya meliputi: bahasa, agama, kesenian, dll)
Ilmu sosial dinamakan demikian karena ilomu tersebut mengambbil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya./
Objek sosial science adalah menusia sedangkan untuk membedakan antara ilmu-ilmu sosial adalah focus of interest (pusat perhatian). Misalnya: ilmu ekonomi yang menjadi pusat yang dipelajarinya adalah usaha-usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan materilnya dari bahan-bahan yang terbatas ketersediaannya. Ilmu politik pusat perhatiannya mengenai kekuasaan manusia, dan seterusnya.
Ilmu budaya adalah suatu ilmu pengetahuannmengenai aspek-aspek yang paling mendasar dalam kehidupan manusia sebagai makhluk berbudaya (homo humanus) dan masalah-masalah yang menyertainya, sering disebut sebagai humanities  yang merupakan pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang konsep-konsep yang dapat digunakan untuk masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

PENDIDIKAN
Dalam UU No.20 tahun 2003
Fungsi dari pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehudupan bangsa.



Tujuan dari Pendidikan Nasional
Tujuan dari pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Dalam penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, menjungjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajuan bangsa sebagai suatu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multi makna, suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat denga memberi keteladanan, membangun kemauan, mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Tanggungjawab pendidikan masa depan tidak hanya menruskan nilai-ni8lai, menstransper IPTEK semata tetapi juga melahirkan warga negara berkedaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. Namun, juga mempersiapkan tenaga kerja profesional, kompetitif, produktif dalam konteks kehidupan yang dinamis, serta mengubah sistem berfikir, sikap hidup dan perilaku berkarya individu maupun kelompok dalam rangka memprakarsai perubahan sosial dan mendorong perubahan ke arah kemajuan, adil, dan bebas.

MENGAPA KEADAANNYA SEPERTI SEKARANG INI?
Untuk mengantisipasi dampak negatif kemajuan IPTEK danlajunya arus globalisasi yang cepat, perlu menyadari untuks egera membekali peserta didik dengan kemampuan dasar diantaranya nilai-nilai kemandirian. Secara filosofis kemampuan tersebut berupa kemampuan dalam memahami, memaknai dan mengamalkan nilai-nilai essensial yang ada pada dirinay baik sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga neagra maupun sebagai bagian dari alam.
Abad 20 di Amerika dan Eropa, hasil analisis mereka berkesimpulan bahwa sistem pendidikan modern yang sekuler telah menghasilkan para scientist dan teknokrat yangn handal tapi tidak melahirkan para lulusan yang memiliki integritas kepribadian yangmatang.
Laporan lima puluh tahunan dari Nation Society for the study of education tahun 1958, program study general of education di Amerika di latar belakangi oleh empat hal, yaitu:
a.       Sebagai reaksi masyarakat terhadap spesialisasi keilmuan yang berlebihan, dimana para spesialis telah mendewakan hasil-hasil temuannya yang menakjubkan sementara mereka lupa pada nilai-nilai essensial kemanusioaannya.
b.      Sebagai reaksi terhadap kepincangan penguasaan minat-minat khusus dengan perolehan peradaban yang lebih luas.
c.       Sebagai reaksi terhadap pengkotak-kotakan kurikulum dan pecahnya pengalaman belajar sisiwa.
d.      Sebagai reaksi terhadap formalism dalam pendidikan liberal.

Konsep Pendidikan Umum (General education)
Konsep pendidikan umum adalah pendidikan yang berkenaan dengan pengembangan keseluruhan kepribadian seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat dan lingkungan hidupnya. Program pendidikan yang membina dan mengnambangkan seluruh aspek kepribadian siswa dan mahasiswa.
Philip H. Phenix (1963:8) merumuska tujuan pendidikan umum:
                 A complete person should be skilled in the use of speech, symbol apresiating object of esthetic significanse, endowed with a rich and decition diciplined life in relation to self and others, able to make wise decition  and to judge between right and wrong and possed of an integral out look. Artinya manusia yang memiliki kemampuan dalam menggunakan kata-kata, simbol, asyrat, dapat menerima informasi faktual, dapat melakukan dan mengapresiasi objek-objek seni, memilliki kemampuan dan disiplin hidup dalam hubungan dengan dirinya maupun orang lain, cakap dalam mengambil keputusan yang bijaksana, dapat mempertimbangkan antara yang benar dan yang salah serta memiliki pandangan yang integral.

Yang Melatarbelakangi Lahirnya General Education
Reaksi terhadap kecenderungan masyarakat modern yang mendewakan produk teknologi dan cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai akibat dari produk sistem pendidikan modern yang sekular. Yaitu pendidikan yang mementingkan pengembangan spsialisasi, sementara pengembangan nilai-nilai kemanusiaan yangn bersifat universal nyaris terabaikan.
Seharusya
Menurut Philip H. Phenix (1964:6), enam pola makna esensial bagi segenap mahasiswa:
·         Makna symbolycs, yaitu kemampuan berbahasa dan berhitung.
·         Makna empirics, yaitu kemampuan untuk memaknai benda-benda melalui proses penjelajahan dan penyelidikan empiris.
·         Makna esthetics, yaitu kemampuan memaknia baik dan buruk.
·         Makna synoetics, yakni kemampuan berfikir logis, rasional sehingga dapat memaknai benar dan salah.
·         Makna synoptic, yaitu kemampuan untuk beragama atau berfilsafat keenam pola makna di atas dikemas dalam bentuk General Education (pendidikan umum).

Bagaimana General Education di Indonesia?
General Education/pendidikan umum yang ada di Amerika telah dikolaborasi oleh para ahli pendidikan di Indonesia menjadi MKDU di bagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.       MPK (mata kuliah pengembangan kepribadian, yang meliputi: pendidikan pancasila, pendidikan Agama, dan pendidikan kewiraan nasional)
b.      MBB mata kuliah berkehidupan bermasyarakat, yang meliputi mata kuliah ISD, IBD, dan IAD. IBD dan ISD melebur menjadi mata kuliah ISBD.

Pemetaan Aspek Pembelajaran dalam Kelompok Mata Kuliah
-        MPK, MKK (keahlian dan keilmuan (learning to know))
-        MKB (keahlian berkarya (learning to do))
-        MPB (perilaku berkarya (learning to be))
-        MBB (berkehidupan bermasyarakat (learning to live together))
MPK (Mata Kuliah Pengembangan kepribadian)
Penghayatan nilai dan kepribadian learning to be morally
            Kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangnkan manusia indonesia indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.(agama, ISBD, dan pancasila).

0 komentar: (+add yours?)

Poskan Komentar